Lagi sibuk finishing hasil penelitian “Sensitivitas dan Spesifisitas Pemeriksaan Klinis pada Penderita Kusta Multibasiler Pasca Release From Treatment”. Finishing maksudnya pengolahan dan analisis data, plus penulisan hasil dan publikasi ilmiah (wah, ternyata proses finishingnya masih panjang!). Niat baik (baca: tujuan) dari┬ápenelitian ini adalah untuk mengetahui validitas pemeriksaan klinis untuk mengevaluasi hasil pengobatan kusta. Pemeriksaan klinis kusta merupakan metode pemeriksaan dengan melihat tanda-tanda penyakit kusta meliputi bercak di kulit yang mati rasa. Di bawah ini (mestinya) adalah gambar bercak kusta tipe multibasiler di bagian belakang pundak yang terdeteksi dengan pemeriksaan klinis, tapi kok gelaaap… (maafkan kameranya, atau yang motretnya??)

100_5633

Sebagai gold standard adalah pemeriksaan bakteriologis kusta. Dalam hal ini, diambil skin smear, pewarnaan Ziehl Neelsen dan dilihat apakah masih terdapat tanda-tanda keberadaan Mycobacterium leprae. Kemudian hasil pemeriksaan klinis dibandingkan dengan pemeriksaan bakteriologis untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitasnya.

Sedikit bocoran, hasil penelitian ini menunjukkan pemeriksaan klinis cukup sensitif dan spesifik untuk mengetahui status kusta pasca pengobatan (setelah published, artikel tentang ini pasti diupload, janji!). Jadi para mahasiswa yang mau melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan penderita kusta, misalnya, bisa menggunakan pemeriksaan klinis saja untuk penentuan variabel dependennya. Lebih mudah dan murah!